Thanks for coming to my blog! I hope we can share and learn in this blog.. ^_^,

Jumat, 08 Februari 2013

Model Pembelajaran Quantum


BAB I
PENDAHULUAN

Setiap pendididkan selalu berurusan dengan manusia, karena hanya manusia yang dapat dididik dan harus selalu dididik. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dikaruniai potensi untuk selalau menyempurnakan diri melalui proses belajar. Tentu sangat logis bagi manusia untuk memilih jalur pendidikan untuk meningkatkan potensi belajarnya. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru berpangkal pada suatu kurikulum, dan dalam proses pembelajaran guru juga berorientasi pada tujuan kurikulum, pada suatu sisi guru adalah pengembang kurikulum, sedangkan pada sisi lainnya guru adalah pembelajar siswa yang secara aktif membelajarkan siswa sesuai dengan kurikulum sekolah.
Pada hakekatnya, mengajar itu adalah suatu proses dimana pengajar dan murid menciptakan lingkungan yang baik, agar terjadi kegiatan belajar yang berdayaguna, untuk mengatasi problematika dalam pelaksanaan pembelajaran,tentu diperlukan model-model mengajar. Menurut Joyce model mengajar adalah suatu deskripsi dari lingkungan belajar yang menggambarkan perencanaan kurikulum, kursus-kursus, desain unit-unit pelajaran dan pembelajaran, perlengkapan belajar, pelajaran, buku-buku kerja, program multimedia, dan bantuan belajar melalui program komputer.
Quantum Teaching menguraikan cara-cara baru yang memudahkan proses pembelajaran lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan, Quantum Teaching merupakan belajar yang meriah dengan segala nuansanya yang menyertakan segala interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar dan berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas. (DePorter, 2005 : 14 )
Jika sejenak membayangan kelas, ruang kuliah ataupun ruang tempat siswa siswa belajar dan kemudian didalamnya terdengar suara dengungan para siswa yang tertarik dan memperhatikan guru saat menerangkan pokok pelajaran, tangan-tangan teracung dengan antusias, tubuh-tubuh condong kedepan penuh rasa ingin tahu dan gemuruh sukaria penuh dengan perayaan. Maka akan ada rasa keriangan berbagi wawasan dan kehangatan saling tukar perkataan yang menyemangatipara siswa. Keadan ini adalah meupakan efek yang muncul dari pemakaian Quantum Teaching.
Segala sesuatunya dapat berarti setiap kata, pikiran, tindakan dan asosiasi dan sampai sejauh mana guru mengubah lingkungan, presentasi, dan rancangan pengajaran maka sejauh itulah proses belajar berlangsung. Hubungan dinamis dalam lingkungan kelas merupakan landasan dan kerangka untuk belajar. (DePorter, 2001 : 40)



BAB II
PEMBAHASAN
A.       Pengertian Model Pembelajaran Quantum
Quantum Teaching pertama kali dipakai oleh DePorter. Mulai dipraktekkan pada tahun 1992. Dengan mengilhami yang terkenal dalam fisika Kuantum yaitu masa kali percepatan cahaya kuadrat sama dengan energi. Dari rumusan itulah dapat didefinisikan bahwa Kuantum adalah sebuah interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Dengan demikian, Quantum Teaching berarti pengubahan belajar yang meriah dengan segala nuansannya yang menyertakan segala Kaitan, Interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan moment belajar dalam kelas. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Sehingga dapat mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan orang lain. Segala hal yang dilakukan dalam kerangka Quantum Teaching yaitu setiap interaksi dengan siswa, setiap rancangan kurikulum, dan metode intruksional dibangun diatas prinsip “Bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Hal ini mengingatkan pada pentingnya memasuki dunia murid sebagai langkah pertama untuk mendapatkan hak mengajar. (DePorter, 2005 : 16)
Quantum Teaching diciptakan berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lozanov), Multiple Intelligences (Gardner), Neuro-Linguistic programming (Grinder dan Bandler), Experiential Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson dan Johnson), dan elements of effective interaction (Hunter). Quantum Teaching merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik menjadi sebuah paket multisensory, multi kecerdasan dan kompatibel dengan otak, yang pasa akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk berprestasi. (Suyatno, 2009 : 39)
Untuk menjadi seorang Quantun Teacher, maka seorang guru harus mampu mengorkestrasi pembelajaran sesuai dengan modalitas dan gaya para pengajarnya. Quantum Teacher juga harus mampu mengajarkan keterampilan hidup ditengah-tengah keterampilan akademis, mencetak atribut mental/fisik/spiritual para siswanya. Karena Quantum Teacher harus dapat mendahulukan interaksi dalam lingkungan belajar, memperhatikan kualitas interaksi antar pelajar, antara pelajar dan guru dan antara pelajar dan kurikulum. Selain itu Quantum Teaching juga diharapkan mampu menjalankan tujuh pedoman untuk presentasi yang sukses saat dalam proses pembelajaran. Diantaranya, adalah memahami secara spesifik apa yang guru inginkan terjadi dalam setiap bagian proses belajar, membangun kredibilitas dan membina hubungan yang baik dengan siswa, menyesuaikan pelajaran dengan kebutuhan mereka, mengubah keadaan siswa hingga mencapai keadaan target, melibatkan modalitas siswa, memanfaatkan ruangan dengan baik, dan menyampaikan pesan yang terbuka, jujur dan adil secara tulus dan kongruen. (Hamdani, 2011 : 285)
Model ini dapat digunakan untuk semua matapelajaran pada semua jenjang dan jenis pendidikan, hanya saja diantaranya disesuaikan dengan siapa yang menjadi peserta didik dan apa mata pelajarannya. Model ini merupakan proses pembelajaran yang akrab dan menyenangkan baik bagi peserta didik maupun pendidik dalam proses pembelajaran . Oleh Karena itu, proses pembelajaran ini sangat membutuhkan guru yang menguasai materi ajar dan mempunyai sifat peramah bukan pemarah. (Agus Nggermanto, 2002 : 183)

B.       Prinsip Model Pembelajaran Quantum
Quantum Teaching memiliki lima prinsip, atau kebenaran tetap. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
1.       Segalanya Berbicara
Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran, dari alat bantu mengajar sampai alat peraga, semuanya mengirim pesan tentang belajar.
2.      Segalanya Bertujuan
Semua yang terjadi dalam pengubahan mempunyai tujuan, semuanya.
3.      Pengalaman Sebelum Pemberian Nama
Otak berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang akan menggerakan rasa ingin tahu, oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum memperoleh nama / konsep yang akan dipelajari.
4.      Alat Setiap Usaha
Belajar matematika jelas mengandung resiko. Belajar terjadi melangkah keluar dari kenyamanan, maka siswa patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
5.      Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan.
Perayaan adalah serapan pelajaran sukses, perayaan atau pemberian penguatan akan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan emosi positif dalam belajar matematika. (Suyatno, 2009: 41)

C.        Strategi Pembelajaran Quantum
1.      Mengorkestrasikan suasana yang menggairahkan
Suasana kelas adalah penentu psikologi utama yang mempengaruhi belajar akademis menurut Walberg dan Greenberg. Adapun kunci untuk membangun suasana tersebut adalah :
a.       Kekuatan Terpendam ( NIAT )
Niat guru atau kekuatan akan kemampuan sangat berpengaruh pada kemampuan itu sendiri untuk dapa memotivasi peserta didik pandangan guru akan lebih cepat.
b.      Jalinan Rasa Simpati dan Saling Pengertian
Dengan membangun jalinan rasa simpati dan saling pengertian dapat membangun jembatan menuju kehidupan dunia baru siswa, mengetahui minat kuat mereka dan berbicara dengan bahasa hati mereka.
c.       Keriangan dan Ketakjuban
Keriangan dan ketakjuban dapat membawa siswa siap belajar dan lebih mudah dan bahkan mengubah sikap negatif. Bentuk keriangan atau kegembiraan yang biasa digunakan adalah : tepuk tangan, tiga kali hore, wuus, jentikan jari, poster umum, catatan pribadi, persekongkolan, pengakuan kekuatan, kejutan, pujian pada teman sebangku, pernyataan afirmasi dan “wow”.
d.      Rasa Saling Memiliki
Rasa saling memiliki akan mempercepat proses pengajaran dan meningkatkan rasa tanggung jawab peserta didik misalnya : tepuk, wow, sebelum memulai belajar, menepuk segmen, mengakhiri segmen tertentu.
e.       Keteladanan
Memberi teladan adalah salah satu cara ampuh untuk membangun hubungan dan memahami orang lain serta akan menambahkan kekuatan kedalam pembelajaran.

2.      Mengorkestrasikan Landasan Yang Kukuh
a.       Tujuan Yang Sama
Tujuan yang sama yaitu mengembangkan kecakapan dalam mata pelajaran matematika, menjadi pelajar yang lebih baik dan berinteraksi sebagai pemain tim.
b.      Prinsip-Prinsip dan Nilai Yang Sama
Satu set prinsip tersebut adalah 8 kunci keunggulan yaitu : 1) Integritas (kejujuran), 2) kegagalan awal kesuksesan, 3) bicaralah dengan baik, 4) hidup disaat ini, 5) komitmen, 6) tanggung jawab, 7) sikap luwes, 8) kesinambungan.
c.       Keyakinan Akan Kemampuan Pelajar, Belajar Dan Mengajar
Seorang guru harus yakin dengan kemampuan belajar siswanya. Mulailah mengajar dari sudut pandang bahwa guru biasa menjadi luar biasa, maka akan berpengaruh pada orang-orang disekitar khususnya peserta didik.
d.      Kesepakatan, kebijakan, prosedur dan peraturan.
Kesepakatan : Lebih informal daripada peraturan, dan konkret untuk melancarkan jalannya pelajaran.
Kebijakan : Mendukung komunitas belajar.
Prosedur : Memberitahu peserta didik apa yang diharapkan dan tindakan apa yang diambil. (Martinis, 2007 : 97)
3.      Mengorkestrasikan Lingkungan Yang Mendukung
a.       Lingkungan Sekeliling
Gunakan poster ikon (symbol), poster afirmasi (motivasi dan gunakan warna).
b.      Alat bantu yakni benda yang mewakili gagasan.
c.       Pengaturan bangku
Misalkan mengatur bangku menjadi bentuk setengah lingkaran untuk diskusi kelompok besar yang dipimpin oleh seorang fasilitator.


d.      Musik
Musik membantu pelajar bekerja lebih baik dan mengingat lebih banyak, merangsang, meremajakan, dan memperkuat belajar baik secara sadar maupun tidak sadar. (DePorter, 2005 : 67)

4.      Mengorkestrasikan Perencanaan Pengajaran Yang Dinamis
a.       Dari dunia mereka ke dunia kita
Maksudnya seorang guru harus mampu menjembatani jurang antara dunia siswa dengan dunia gurunya. Hal ini memudahkan guru membangun jalinan antara guru dengan siswa.
b.      Modalitas Vak ( Visual Auditorial Kinestik )
·      Visual, ciri-ciri : Teratas, memperhatikan segala sesuatu, menjaga penampilan, mengingat dengan gambar, lebih suka membaca daripada dibacakan, membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh untuk meningkatkan daya serap membutuhkan untuk dilihat dan diamati senang.
·      Auditorial, ciri-ciri : Perhatian mudah pecah, berbicara dengan pola berirama, belajar dengan cara mendengarkan, dan bersuara saat membaca untuk meningkatkan daya serat menggunakan suara seperti nyanyian, puisi bahkan diskusi.
·      Kinestik, ciri-ciri : mudah Mengingat dan ungkapan wajah banyak bergerak / belajar langsung dengan mengerjakan, senang dengan kegiatan fisik untuk meningkatkan daya serap, memudahkan media, senang dengan kegiatan fisik untuk meningkatkan daya serap, memudahkan media yang dapat dipegang dan disentuh langsung.
·      Model kesuksesan dari sudut pandang
Ada dua factor utama yang membantu menentukan kesuksesan siswa yakni kesulitan pelajaran dan derajat resiko pribadi. Hal-hal yang dapat dilakukan guru untuk kesuksesan siswanya yakni, saat memperkenalkan isi pelajaran selalu menyanyikan dengan menggunakan unsur V-A-K, sering melakukan pengulangan, membuat kelompok kecil untuk memantapkan belajar dan menyelesaikan secara perseorangan. (DePorter, 2005 : 123)

c.        Kecerdasan Berganda Bertemu Slum-n-Bil
Kecerdasan yang dimaksud di sini adalah special visual, linguistic verbal, interpersonal, musical ritmik, naturalis badan kinestik dan logis matematika. Tetapi seorang guru harus keluar dari zona nyaman dalam mengajar dan merancang pengajaran siswa harus diberi kesempatan mengatur kecerdasan sesuai dengan potensinya.

d.      Penggunaan Metafora, Perumpamaan Dengan Sugesti
Metafora dapat membantu menghidupkan konsep-konsep yang dapat terlupakan memunculkannya ke dalam otak secara mudah dan cepat. Perumpamaaan akan memudahkan siswa untuk lebih mengerti susegti memiliki kekuatan mendalam.

D.       Langkah-Langkah Model Pembelajaran Quantum
Agar proses pembelajaran dengan model quantum teaching ini dapat benar-benar sedinamis mungkin. Maka, perlu melalui langkah-langkah di bawah ini yang sering dikenal sebagai kerangka rancangan quantum teaching TANDUR yaitu : (Suyatno, 2009: 42)
1.      Langkah pertama: Tumbuhkan
Pada langkah ini guru harus menumbuhkan motivasi dan semangat belajar siswa. Dan memberi tahu siswa bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri, mengaitkan pelajaran dengan masa depan dan berguna dalam dunia nyata. Sehingga mereka tahu apa manfaat dari apa yang sedang mereka pelajari bagi diri mereka biasannya dikenal dengan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku). (DePorter, 2005 : 54)
2.      Langkah Kedua : Alami
Guru memberikan pengalaman kepada siswa dan memanfaatkan hasrat alami otak untuk menjelajah. Karena pengalaman membangun keingintahuan siswa dan dapat menciptakan beberapa pertanyaan dalam benak mereka. Saat pengalaman terbentang, guru mengumpulkan informasi untuk memaknai pengalaman tersebut. Inforamsi ini membuat yang abstrak menjadi konkrit.
3.      Langkah Ketiga : Namai
Setelah membuat siswa penasaran, penuh pertanyaan mengenai pengalaman mereka, maka penamaan dapat memuaskan keingintahuan siswa. Penamaan memuaskan hasrat alami otak untuk memberikan identitas, mengurutkan, dan mendefinisikan. Penamaan merupakan informasi, fakta, rumus, pemikiran, tempat dan sebagainya. Guru menyediakn kata kunci, konsep, model, rumus, strategi dan sebuah masukan.
4.      Langkah Keempat : Demonstrasi
Guru diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu. Guru memberikan peluang untuk menerjemahkan dan menerapkan pengetahuan mereka ke dalam pembelajaran yang lain dan ke dalam kehidupan mereka serta mampu memperagakan tingkat kecakapan mereka dengan pengetahuan yang baru saja mereka miliki.
5.      Langkah Kelima : Ulangi
Siswa diberi kesempatan untuk mengajarkan pengetahuan baru mereka kepada orang lain. Tentunya, dengan menggunakan cara yang berbeda dari asalnya. Pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “aku tahu bahwa aku tahu ini”. Dan tentunya menunjukan pelajar cara-cara mengulang materi yang telah dibahas.
6.      Langkah Keenam: Rayakan
Pada langkah terakhir ini, saatnya untuk memberikan penghormatan atas usaha, keberhasilan dan ketekunan yang dilakukan dengan perayaan. Hal ini akan memperkuat kesuksesan dan memberi motivasi siswa. Perayaan disini dapat dilakukan dengan memberikan pujian, bernyanyi, bermain tepuk, pesta kelas dan lain-lain. (Win Wenger, 2004 : 57)

E.       Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Quantum
Kelebihan Model Pembelajaran Quantum :
·           Dapat membimbing peserta didik kearah berfikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama.
·           Karena Quantum Teaching lebih melibatkan siswa, maka saat proses pembelajaran perhatian murid dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh guru, sehingga hal yang penting itu dapat diamati secara teliti.
·           Karena gerakan dan proses dipertunjukan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.
·           Proses pembelajaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
·           Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan dapat mencoba melakukannya sendiri.
·           Karena model pembelajaran Quantum Teaching membutuhkan kreativitas dari seorang guru untuk merangsang keinginan bawaan siswa untuk belajar, maka secara tidak langsung guru terbiasa untuk berfikir kreatif setiap harinya.
·           Pelajaran yang diberikan oleh guru mudah diterima atau dimengerti oleh siswa.

Kelemahan Model Pembelajaran Quantum
·           Model ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang disamping memerlukan waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa mengambil waktu atau jam pelajaran lain.
·           Fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.
·           Karena dalam metode ini ada perayaan untuk menghormati usaha seseorang siswa baik berupa tepuk tangan, jentikan jari, nyanyian. Maka dapat mengganggu kelas lain.
·           Banyak memakan waktu dalam hal persiapan.
·           Model ini memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang hal itu, proses pembelajaran tidak akan efektif.
·           Agar belajar dengan model pembelajaran ini mendapatkan hal yang baik diperlukan ketelitian dan kesabaran. Namun kadang-kadang ketelitian dan kesabaran itu diabaikan. Sehingga apa yang diharapkan tidak tercapai sebagaimana mestinya.

F.        Aplikasi Model Pembelajaran Quantum
Menyelesaikan sistem persamaan linear tiga variabel dan merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear.
            Sistem persamaan linear tiga variabel terdiri atas tiga persamaan linear yang masing-masing memuat tiga variabel. Dengan demikian, SPLTV dalam variabel x, y, dan z dapat ditulis sebagai:
ax + by + cz = d                                              a1x + b1y + c1z = d1
ex + fy + gz = h                      atau                 a2x + b2y + c2z = d2
ix + jy +  kz = l                                                a3x + b3y + c3z = d3
dengan a, b, c, d, e, f, g, h, i, j, k, dan l atau a1, b1, c1, d1, a2, b2, c2, d2, a3, b3, c3, dan d3 merupakan bilangan-bilangan real. Untuk selanjutnya gunakan bentuk umum sistem persamaan linear yang kedua.
Jika nilai x = x0, y = y0, dan z = z0, ditulis dengan pasangan terurut (x0, y0, z0), memenuhi SPLTV diatas, maka haruslah berlaku hubungan
a1x0 + b1y0 + c1z0 = d1
a2x0 + b2y0 + c2z0 = d2
a3x0 + b3y0 + c3z0 = d3
Dalam hal demikian (x0, y0, z0) disebut penyelesaian sistem persamaan linear tersebut dan himpunan penyelesaiannya ditulis sebagai [(x0, y0, z0)].
Seperti halnya SPLDV, penyelesaian atau himpunan penyelesaian SPLTV dapat ditentukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah dengan menggunakan :
·           Metode substitusi
·           Metode eliminasi
·           Metode determinan.
1.         Metode Substitusi
Langkah- langkah penyelesaian SPLTV (dalam x, y, dan z) dengan menggunakan metode substitusi adalah sebagai berikut:
Langkah 1:
Pilihlah salah satu persamaan yang sederhana, kemudian nyatakan x sebagai fungsi y dan z, atau y sebagai fungsi x dan z, atau z sebagai fungsi x dan y.
Langkah 2:
Substitusikan x atau y atau z yang diperoleh pada langkah 1 ke dalam dua persamaan yang lainnya sehingga didapat SPLDV.
Langkah 3:
Selesaikan SPLDV yang diperoleh pada langkah 2
2.         Metode Eleminasi
Langkah-langkah penyelesaian SPLTV (dalam x, y, dan z) dengan menggunakan metode eliminasi adalah sebagai berikut:
Langkah 1:
Eleminasi salah satu peubah x atau y atau z sehingga diperoleh SPLDV.
Langkah 2:
Selesaikan SPLDV yang didapat pada langkah 1
Langkah 3:
Substitusikan nilai-nilai peubah yang diperoleh pada langkah 2 kedalam salah satu persamaan semula untuk mendapatkan nilai peubah yang lainnya. (Sartono, 2006 : 114)

Contoh Soal:
1.      Carilah himpunan penyelesaian SPLTV berikut dengan metode substitusi
x – 2y + z = 6
3x + y – 2z = 4
7x – 6y – z = 10
Jawab:
Dari persamaan x – 2y + z = 6  x = 2y – z – 6. Peubah x ini di substitusikan ke persamaan 3x + y – 2z = 4 dan 7x – 6y – z = 10, diperoleh
     3(2y – z – 6) + y – 2z = 4
 6y – 3z – 18 + y – 2z = 4
 7y – 5z = -14 ................................................................... (1)
Dan
     7(2y – z + 6) – 6y – z = 10
↔ 14y – 7z + 42 – 6y – z = 10
↔ 8y – 8z = -32
 y – z = 4 ......................................................................... (2)
Persamaan (1) dan (2) membentuk SPLDV  y dan z
7y – 5z = -14
y – z = -4
Dari persamaan y – z = -4  y = z – 4
Peubah y di substitusikan ke persamaan 7y – 5z = -14, diperoleh:
                 7 (z – 4) – 5z = -14
↔ 7z – 28 – 5z = -14
↔ 2z = -14
↔ z = 7
Substitusi nilai z = 7 ke persamaan y = z – 4, diperoleh:
y = 7 – 4 = 3
Substitusi nilai y = 3 dan z = 7 ke persamaan x = 2y – z + 6, diperoleh:
x = 2(3) – 7 + 6 = 5
Jadi, himpunan penyelesaiannya adalah [(5, 3, 7)].
2.      Carilah himpunan penyelesaian dari tiap SPLTV berikut dengan metode eliminasi
2x – y + z = 6
x – 3y + z = -2
x + 2y – z = 3
Jawab:
Eleminasi peubah z:
Dari persamaan pertama dan kedua          Dari persamaan kedua dan ketiga
2x – y + z = 6                                                        x – 3y + z = -2
x – 3y + z = -2                                                       x + 2y – z = 3
x + 2y = 8 ................... (1)                                                2x – y = 1 .................. (2)
Persamaan (1) dan (2) membentuk SPLDV x dan y.
x + 2y = 8
2x – y = 1
Eleminasi peubah y:
x + 2y = 8  x 1        x + 2y = 8
2x – y = 1   x 2     4x – 2y = 2
                                    5x = 10
                                     x  = 2
Eleminasi peubah x:
x + 2y = 8  x 2        2x + 4y = 16
2x – y = 1   x 1     2x – y = 1
                                    5y = 15
                                     y  = 3
Nilai z dicari dengan mensubtitusikan x = 2 dan y = 3 kesalah satu persamaan semula.
Misalnya dipilih persamaan x + 2y – z = 3, diperoleh:
2 + 2(3) – z = 3
     z = 5
Jadi, himpunan penyelesaian SPLTV itu adalah [(2, 3, 5)].

Note:
Setelah diperoleh sistem persamaan :
x + 2y = 8  
2x – y = 1
SPLDV ini dapat saja diselesaikan dengan menggunakan metode substitusi. Dalam hal demikian, dikatakan menggunakan gabungan metode eliminasi dan substitusi.



Kegiatan  Pembelajaran Saat Mengaplikasikannya
A.    Kegiatan Awal
·      Guru memberi salam pembuka dan mengontrol kehadiran siswa.
·      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
·      Guru menyampaikan model pembelajaran yang akan digunakan yaitu model Quantum Teaching.
·      Guru memotivasi siswa dalam kerangka rancangan Quantum Teaching yaitu TANDUR.
·      Guru menyampaikan apersepsi.

B.     Kegiatan Inti
·      Guru memutarkan musik instrumental dengan tujuan merilekskan pikiran, hati, memusatkan pikiran.
·      Guru menunjukkan sebuah poster afirmasi dengan tujuan menumbuhkan minat belajar dengan siswa.
·      Guru menjelaskan materi sistem persamaan linear tiga variabel.
·      Guru memberikan contoh soal.
·      Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5 – 6 siswa.
·      Guru membagi lembar kerja kepada masing-masing kelompok.
·      Masing-masing kelompok mendiskusikan permasalahan yang diberikan dengan diiringi musik instrumental.
·      Guru mengontrol dan membimbing kerja kelompok.
·       Guru meminta setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi.
·      Guru memberi kesempatan kelompok lain untuk mengajukan pertanyaan.
·      Guru mengevaluasi hasil diskusi tiap-tiap kelompok.
·      Guru memberi penghargaan kepada kelompok yang mempresentasikan dengan baik.
·       Guru memberi ulasan / penegasan materi yang dipelajari.

C.    Kegiatan Akhir
·      Guru bersama-sama siswa menarik kesimpulan dari materi yang telah dipelajari.
·      Guru meminta siswa untuk mempelajari materi yang telah dipelajari.
·      Guru memberikan tugas rumah.
·      Guru mengakhiri pelajaran dengan mengucapkan salam penutup.

D.    Hendaknya Guru Memperhatikan
·      Keaktifan siswa dalam bertanya dan menjawab pertanyaan.
·      Kerjasama siswa dalam kelompok.
·      Minat belajar siswa dalam menerima pelajaran.
·      Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal.




BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
         Quantum Teaching adalah pengubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya yang menyertakan segala kaitan interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar yang berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas.
          Kerangka Rancangan Belajar Quantum Teaching dikenal sebagai TANDUR ( Tumbuhkan, Alami, Namai, Demontrasikan, Ulangi, Rayakan)
         Dengan model pembelajaran Quantum Teaching, Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel menjadi sangat mudah dan menyenangkan. Sehingga semangat dan motivasi siswa menjadi sangat tinggi.

B.     Saran
·Agar penggunaan model Quantum Teaching ini dapat berjalan, maka diperlukan kreatifitas yang tinggi bagi seorang guru.
·Sebaiknya penggunaan model harus sesuai dengan materi yang diajarkan.
· Guru harus mampu melibatkan semua siswa saat proses belajar mengajar. Maka, yang harus dilakukan adalah merubah posisi tempat duduk siswa.
· Bila diperlukan gunakan musik untuk menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa dan mendukung lingkungan belajar. Karena musik membantu pelajar bekerja lebih baik dan mengingat lebih banyak.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar